Dalam skema TCTP di Wiraraja ini, asas kesempatan yang adil (fair equality of opportunity) dari Rawls terdistorsi secara struktural. Masyarakat Bangkalan, yang mayoritas tidak disiapkan dengan literasi industri manufaktur canggih, secara otomatis tersisih dari posisi strategis. Mereka dipaksa masuk ke dalam pasar tenaga kerja dalam kondisi “cacat kompetisi”. Akibatnya, boro-boro mengentaskan kemiskinan, industrialisasi ini justru akan mereproduksi kelas sosial baru: proletariat urban Madura yang miskin kota. Mereka terasing di tanah mereka sendiri, sementara surplus ekonomi diekstraksi ke luar pulau. “Tirai ketidaktahuan” ala Rawls sengaja disingkap oleh para pembuat kebijakan untuk memastikan kepentingan pemilik modal tetap diuntungkan di atas kerapuhan masyarakat lokal.
Kritik yang lebih fundamental dapat diajukan melalui teori keadilan ruang dan keadilan lingkungan yang melihat bagaimana tata ruang agraria dan maritim Madura diubah secara paksa demi melayani kepentingan sirkulasi modal global. Relokasi pabrik-pabrik yang sudah tidak efisien atau mengalami pengetatan regulasi lingkungan di Tiongkok lalu dilempar ke wilayah berkembang seperti Madura mencerminkan fenomena imperialisme ekologis. Di sini, risiko pencemaran, limbah industri poliester, dan beban ekologis dipindahkan ke wilayah pinggiran, sementara keuntungan finansial ditarik kembali ke pusat kemakmuran.
Secara kultural, masyarakat Madura memiliki keterikatan spiritual dan eksistensial yang kuat terhadap tanah dan laut melalui falsafah hidup yang mandiri. Namun, mereka kini dipaksa bertransformasi menjadi masyarakat proletar industri yang tercerabut dari akar budayanya. Pemaksaan corak produksi modern ini mengabaikan kapasitas agensi lokal dan menghancurkan tatanan sosial tradisional. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut Karl Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 sebagai alienasi, yaitu keterasingan pekerja dari produknya, dari tindakan produksi, dari hakikat dirinya (species-essence) sebagai manusia kreatif, serta dari sesama manusia akibat sekat kapitalistik.

