“Kalau pembangunan ini benar-benar ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura, maka sejak awal harus ada keberpihakan yang jelas kepada masyarakat lokal. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan dampak sosial dan ekologis, sementara keuntungan ekonominya justru lebih banyak dinikmati pihak lain,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar pembangunan industri tidak menghilangkan karakter dan identitas budaya masyarakat Madura. Menurutnya, kemajuan ekonomi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengorbankan ruang hidup, tradisi, maupun nilai-nilai kultural yang telah tumbuh selama puluhan bahkan ratusan tahun.
“Madura memiliki identitas budaya yang kuat. Jangan sampai atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi, ruang-ruang budaya masyarakat perlahan hilang. Pembangunan harus mampu berjalan berdampingan dengan identitas lokal, bukan justru menghapusnya,” katanya.
Selain persoalan budaya, Supriadi menaruh perhatian serius terhadap aspek ekologis. Ia meminta pemerintah memastikan pembangunan kawasan industri tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang pada akhirnya harus ditanggung masyarakat.
Menurutnya, kajian mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan harus benar-benar menjadi dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar formalitas administratif.
“Ekologi Madura juga memiliki batas. Kita tidak boleh berpikir bahwa seluruh persoalan lingkungan bisa diselesaikan setelah kerusakan terjadi. Pencegahan harus dilakukan sejak awal. Jangan sampai generasi hari ini menikmati keuntungan ekonomi, tetapi generasi berikutnya justru mewarisi kerusakan lingkungan,” ujarnya.

