Bangkalan – Nyeri dan kekakuan pada lutut masih menjadi persoalan yang banyak dialami kelompok lanjut usia (lansia). Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga dapat membatasi aktivitas, mengurangi kepercayaan diri untuk bergerak, hingga meningkatkan risiko jatuh dan ketergantungan pada orang lain.

Persoalan itu menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Senam Lutut “SEL PATUH” yang digelar di Dusun Pandien, Desa Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Sabtu (1/8/2026).
Sebanyak 30 lansia mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan tingkat nyeri dan risiko jatuh, diskusi interaktif, hingga praktik gerakan senam lutut secara langsung.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh dosen Universitas Noor Huda Mustofa, Agus Priyanto, S.Kep., Ns., M.AP., M.Kep. Program tersebut juga mendapat pendampingan dari unsur masyarakat setempat, termasuk tokoh Ranting NU Burneh, As’ad Abdul Karim, S.Pd.I.
Melalui kegiatan Senam Lutut “SEL PATUH”, para lansia diharapkan dapat menjaga kekuatan dan kelenturan sendi, meningkatkan kemampuan bergerak, serta menekan risiko jatuh dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa persoalan risiko jatuh masih menjadi perhatian serius di kalangan peserta. Dari 30 lansia yang mengikuti pemeriksaan, sebanyak 28 orang atau 93,33 persen berada dalam kategori risiko jatuh sedang. Sementara dua orang atau 6,66 persen berada dalam kategori risiko jatuh rendah.

