Opini  

Psikologi Kata: Bagaimana Bahasa Membentuk Pikiran yang Sehat?

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Di sinilah pentingnya menjaga bahasa, bukan demi terlihat sopan semata, melainkan demi menjaga kesehatan psikologis. Orang tua, misalnya, sering kali tanpa sadar memberi label kepada anak. Kalimat seperti, “Kamu memang pemalas,” atau “Kamu selalu membuat masalah,” terdengar sederhana, tetapi dapat melekat sebagai identitas. Padahal yang bermasalah adalah perilakunya, bukan dirinya. Akan jauh lebih baik jika orang tua berkata, “Hari ini kamu belum menunjukkan tanggung jawab,” sebab kritik diarahkan pada tindakan, bukan pada harga diri anak.

Demikian pula dalam kehidupan pasangan, persahabatan, atau dunia kerja. Tidak semua kritik harus dibungkus dengan kemarahan. Tidak semua perbedaan pendapat harus disampaikan dengan penghinaan. Bahasa yang sehat bukan berarti selalu memuji. Bahasa yang sehat adalah bahasa yang jujur, tetapi tetap menghormati martabat manusia.

READ -  Satu Bulan Mengabdi, Mahasiswa STKIP PGRI Bangkalan Tuntaskan PLP II di MA Al Hidayah Jengkebuan

Menariknya, menjaga bahasa juga berarti menjaga percakapan dengan diri sendiri. Kita sering begitu lembut kepada orang lain, tetapi sangat keras kepada diri sendiri. Ketika gagal, kita berkata, “Aku memang bodoh.” Ketika melakukan kesalahan kecil, kita langsung menyimpulkan, “Aku selalu mengecewakan.” Padahal, jika kalimat itu diucapkan kepada sahabat kita, mungkin kita akan merasa itu terlalu kejam.

Barangkali, sudah saatnya kita memperlakukan diri sendiri sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain, yakni dengan bahasa yang lebih adil, lebih jujur, dan lebih penuh harapan. Pada akhirnya, kesehatan mental tidak hanya dibangun oleh obat, terapi, atau lingkungan yang nyaman. Ia juga bertumbuh dari kata-kata yang setiap hari kita dengar, kita ucapkan, dan kita simpan dalam pikiran. Sebab, manusia pada dasarnya hidup di dalam bahasa.