Opini  

Psikologi Kata: Bagaimana Bahasa Membentuk Pikiran yang Sehat?

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Di media sosial, misalnya, begitu mudah seseorang menulis komentar, “Dasar bodoh!”, “Tidak berguna!”, atau “Memalukan!” Hanya beberapa detik untuk mengetik, tetapi dampaknya bisa bertahan lama pada orang yang membacanya. Sebaliknya, komentar sederhana seperti “Terima kasih atas idenya”, “Semoga berhasil”, atau “Tetap semangat” sering kali menjadi penyemangat yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Bahasa ternyata memiliki efek domino. Ia tidak hanya memengaruhi lawan bicara, tetapi juga membentuk budaya komunikasi. Lingkungan yang dipenuhi penghargaan akan melahirkan keberanian untuk mencoba. Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi ejekan akan membuat banyak orang memilih diam sebab takut salah.

Dalam linguistik, M. A. K. Halliday (pakar bahasa Inggris yang sangat berpengaruh dan pencetus teori Linguistik Fungsional Sistemik) menjelaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat menyampaikan informasi, melainkan alat membangun makna. Artinya, setiap pilihan kata membawa cara tertentu dalam melihat dunia. Ketika kita lebih sering menggunakan kata “kesempatan” daripada “ancaman”, atau “belajar” daripada “gagal”, sebenarnya kita sedang membangun kerangka berpikir yang berbeda.

READ -  Satu Bulan Mengabdi, Mahasiswa STKIP PGRI Bangkalan Tuntaskan PLP II di MA Al Hidayah Jengkebuan

Hal yang sama juga dijelaskan oleh George Lakoff (pakar linguistik kognitif dan profesor emeritus di Universitas California, Berkeley) melalui teori metafora konseptual. Menurutnya, manusia memahami pengalaman hidup melalui metafora yang tertanam dalam bahasa. Tidak mengherankan jika orang yang terus menganggap hidup sebagai “pertempuran” akan melihat setiap orang sebagai lawan. Sebaliknya, mereka yang memandang hidup sebagai “perjalanan” lebih mudah menerima bahwa sesekali tersesat merupakan bagian dari proses menuju tujuan.