Opini  

Ketika Sastra Menjadi Jalan Berfilsafat

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Sebab itu, sastra Indonesia sesungguhnya bukan hanya ruang apresiasi estetik. Ia adalah laboratorium filsafat yang sangat kaya. Dalam puisi-puisi Sapardi kita belajar tentang kesunyian dan cinta. Dalam cerpen Danarto kita berjumpa dengan pengalaman transendental. Dalam novel Kuntowijoyo kita menyaksikan pergulatan manusia mencari makna di tengah perubahan zaman. Dalam karya Ahmad Tohari kita menemukan perjumpaan antara tradisi, sejarah, dan kemanusiaan. Bahkan dalam mantra-mantra Nusantara kita dapat membaca jejak cara masyarakat memandang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Semua itu menunjukkan bahwa sastra adalah ruang tempat filsafat hidup dalam pengalaman, bukan sekadar dalam definisi.

Kesadaran itulah yang kemudian mengubah cara saya memandang bahasa. Bahasa Indonesia adalah rumah pertama tempat saya belajar merasakan dunia. Bahasa Inggris membuka pintu menuju percakapan global tentang hermeneutika, filsafat bahasa, dan teori sastra kontemporer. Bahasa Arab membawa saya kembali kepada khazanah filsafat Islam yang menjadi akar dari begitu banyak percakapan intelektual tentang wujud, ilmu, hikmah, dan kemanusiaan. Ketiga bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi. Ketiganya adalah jalan untuk memasuki tradisi-tradisi pengetahuan yang berbeda, sekaligus mempertemukannya dalam sebuah dialog yang saling memperkaya.

READ -  Problem Demokrasi, Bukan Sekadar Soal Efisiensi

Pada akhirnya, saya percaya bahwa belajar sastra tidak berarti meninggalkan filsafat, sebagaimana belajar filsafat tidak berarti menjauh dari kehidupan. Justru ketika sastra dan filsafat dipertemukan, kita menemukan bahwa keduanya sedang berbicara tentang manusia yang sama, yaitu manusia yang mencintai, meragukan, mencari, gagal, bangkit, dan terus berusaha memahami dirinya sendiri. Bahasa menjadi jembatan yang menghubungkan seluruh pengalaman itu. Di dalamnya, simbol dan metafora berkelindan dengan ingatan, tradisi, dan harapan. Di dalamnya pula setiap kata menyimpan kemungkinan untuk melahirkan hikmah baru.