Di layar lain, para pemimpin ormas, rapi, dengan suara lembut, mengimbau agar rakyat berhenti. Bagi massa, suara itu adalah lelucon yang pahit. “Di mana mereka saat Affan dilindas?” seorang pelajar STM berteriak. Tawa getir serupa kabut. Seruan moral itu tenggelam.
Pemerintah serupa perahu bocor yang mencoba ditimba dengan cangkir. Janji-janji dilontarkan, serupa bunga-bunga plastik: indah, tapi tak berakar. Tapi setiap kali hampir berhasil, kabar baru muncul: rumah dijarah, pos polisi dibakar, video provokasi tersebar. Kepercayaan rakyat serupa kaca yang dihancurkan di jalan, pecah dan tak bisa disatukan lagi.
Tanggal 31 Agustus, pagi. Presiden duduk bersama para ketua partai. Mata mereka serupa ular yang siap menggigit. Wajahnya menua, seolah ia telah meminum seluruh duka kota ini. Ia tahu, jika ia gagal, yang runtuh bukan hanya kekuasaannya, tapi juga nyawa kota ini.
Siangnya, ia berdiri di depan kamera. Pidatonya kali ini bukan rayuan, tapi deklarasi perang melawan kebohongan. Ia berjanji akan memenuhi tuntutan massa, merevisi kebijakan, membentuk tim investigasi, dan akan memproses setiap anarkis. Kata-katanya serupa pisau yang membelah kabut. Untuk pertama kali sejak darah Affan membasahi aspal, massa terdiam. Ada yang menangis, ada yang berlutut. Namun, lebih banyak melihat dengan sinis.
Tanggal 1 September, kota ini serupa tubuh yang baru bangun dari mimpi buruk. Jalanan masih penuh spanduk, ban-ban terbakar masih menghitamkan udara. Tapi api mulai padam. Suara mulai mengecil. Demo masih ada, tapi tak lagi melengking. Di rumahnya yang kecil, ibu Affan memeluk helm yang retak. Di luar, ribuan ojol membunyikan klakson panjang dan serempak. Suara itu menggema, serupa doa yang tak pernah sampai, hanya berputar-putar di langit kota yang kelabu ini.

