Cerpen  

Jakarta yang Terbakar, Helm yang Retak

jatiminfo.id
Ilustrasi Demo 28 Agustus 2025

​Tanggal 29, dini hari. Di persimpangan besar, massa didesak, serupa kawanan domba yang digiring ke jurang. Affan terhimpit, serupa kembang yang dihimpit batu. Ia berteriak, tapi sirene menelannya. Sebuah rantis Brimob, serupa monster besi yang buta, melaju. Rodanya melindas tubuh Affan, seperti roda waktu yang tak pernah berhenti. Helm hijaunya retak. Darah muncrat, seperti mata air dari kepala yang meletus.

Ia jatuh di aspal yang basah oleh keringat dan air mata. Rantis itu tak berhenti. Ia lari, serupa ketakutan yang berlari dari bayangannya sendiri. Tubuh Affan teronggok, serupa daun yang dibuang di tepi jalan.

​Tangisan berubah menjadi jeritan. Jeritan berubah menjadi nama. Nama Affan diteriakkan, berulang-ulang, menjadi mantra dendam yang menggetarkan udara. Berita kematiannya meledak. Foto helm retak yang berlumuran darah menyebar seperti wabah. Siangnya, ribuan ojol berkumpul di rumah kecil Affan.

READ -  Tragedi Ojol Tewas Terlindas: Presiden Prabowo Berduka dan Janji Usut Tuntas

Mereka mengantarkan jenazahnya, dengan klakson yang panjang dan serempak, serupa tangisan mesin yang tak pernah berhenti. Jalanan bergemuruh, serupa kota yang meratap. Ibunya duduk di lantai, memeluk baju terakhir Affan. Wajahnya kosong, serupa kolam yang sudah mengering.

​Di layar televisi, presiden berbicara dengan wajah yang dipahat dari batu. Ia berjanji, tentang keadilan, tentang kesabaran dan janji-janji yang belum sempat ditulis sebelumnya. Tapi kata-kata itu serupa hujan yang jatuh di padang pasir kering—tak meresap, tak pernah bisa menumbuhkan apa pun. Bagi massa, pidato itu adalah ludah. Poster wajah Affan diangkat tinggi-tinggi, serupa bendera perang, serupa nisan yang tiba-tiba tumbuh di udara.