Malam itu, Jakarta menjadi tubuh yang terbakar. Kantor polisi di Kramat menjadi abu, dindingnya runtuh. Pos-pos polisi, satu per satu, serupa lilin-lilin dalam ritual gelap. Halte-halte di Jakarta menjadi kerangka besi hitam, bau plastik terbakar menempel di udara, di rambut, di kulit.
Tapi mereka yang membakar, mereka bukan pendemo. Mereka datang, melemparkan api, lalu lenyap. Mereka adalah provokator, tangan-tangan gelap yang ingin kota ini meledak. Dan di televisi, wajah-wajah massa dijadikan bukti: rakyat dituduh sebagai perusak, seolah-olah kebenaran sudah ditakdirkan sebelum sejarah dimulai.
Di sebuah ruangan gelap, tujuh orang duduk mengelilingi meja bundar. Mereka bukan siapa-siapa, tapi juga seluruhnya. Seorang politisi tua dengan wajah licin serupa belut, seorang pengusaha yang kehilangan proyek, mantan jenderal yang menyimpan dendam, konsultan media yang pandai merangkai kebohongan, pemimpin ormas yang berwajah ganda, dan dua bayangan yang tak pernah disebut namanya. Mereka tertawa pelan. Bagi mereka, Affan hanyalah bidak. Kematiannya hanyalah satu langkah di papan catur yang besar. Bagi mereka, kekacauan adalah mata uang yang tak pernah kehilangan nilainya.
Tanggal 30 Agustus, Jakarta serupa medan perang. Penjarahan meledak. Minimarket, toko elektronik, gudang, bahkan rumah para politisi yang selalu berpidato tentang moral. Layar televisi menayangkan tubuh-tubuh yang berlari membawa televisi baru, serupa pesta kemenangan yang gila.

