Opini  

Akreditasi Naik, Ruh Pendidikan Menurun?

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Saya sering bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya yang akan diingat peserta didik ketika mereka dewasa nanti? Hampir tidak ada yang mengenang berapa jumlah dokumen sekolahnya. Tidak banyak pula yang mengingat nilai akreditasi almamaternya.

Yang mereka ingat justru guru yang tidak menertawakan pertanyaan bodohnya. Guru yang tetap percaya ketika semua orang meragukannya. Guru yang diam-diam menyelipkan uang makan ketika ia lupa membawa bekal. Guru yang mengajarkan kejujuran bukan melalui ceramah, melainkan melalui teladan.

Pengalaman-pengalaman kecil itulah yang diam-diam membentuk manusia. Sayangnya, pengalaman semacam itu hampir tidak pernah masuk ke dalam instrumen penilaian. Jauh sebelum kita sibuk berbicara tentang indikator mutu, Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan bahwa pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Kata “tuntunan” terasa sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Guru bukan pengisi kepala murid, melainkan penuntun perjalanan hidup mereka. Pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari papan tulis ke buku catatan, melainkan menumbuhkan manusia agar mampu menemukan dirinya sendiri.

READ -  Diamnya Pemerintah di Tengah Tanah yang Tak Pernah Diam

Itulah sebabnya Ki Hajar Dewantara memperkenalkan sistem among melalui falsafah ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Keteladanan, kebersamaan, dan dorongan menjadi inti dari proses pendidikan. Relasi antarmanusia lebih penting daripada sekadar penyelesaian administrasi.