Opini  

Akreditasi Naik, Ruh Pendidikan Menurun?

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Pandangan itu memiliki gema yang sama dalam pemikiran John Dewey. Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan persiapan menuju kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri. Sekolah semestinya menjadi ruang tempat peserta didik mengalami, berdialog, bekerja sama, gagal, mencoba kembali, lalu bertumbuh sebagai manusia.

Sementara itu, Paulo Freire mengingatkan bahaya pendidikan yang hanya memperlakukan peserta didik sebagai “rekening kosong” yang terus diisi pengetahuan. Pendidikan seperti itu mungkin menghasilkan nilai yang tinggi, tetapi belum tentu melahirkan manusia yang merdeka. Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang dialogis, yang membuat peserta didik mampu berpikir kritis, mempertanyakan realitas, dan berani mengambil sikap.

Kritik yang tidak kalah relevan disampaikan Martha C. Nussbaum. Dalam Not for Profit, ia mengingatkan bahwa ketika pendidikan terlalu tunduk pada logika produktivitas, efisiensi, dan indikator keberhasilan, yang lahir adalah manusia yang terampil secara teknis, tetapi miskin empati. Padahal, demokrasi tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai bekerja, melainkan juga manusia yang mampu memahami penderitaan orang lain, menghargai perbedaan, dan berpikir dengan kebijaksanaan.

READ -  "Susu Mbok Darmi" dan Seni Menjual Ketaksaan

Semua pemikiran itu seakan sedang berbicara kepada kita hari ini. Kita memang membutuhkan sekolah yang unggul. Kita membutuhkan guru yang profesional. Kita juga membutuhkan sistem akreditasi yang kredibel. Tidak ada yang perlu dipertentangkan. Yang perlu kita renungkan adalah jangan sampai alat berubah menjadi tujuan.