Opini  

Akreditasi Naik, Ruh Pendidikan Menurun?

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Ironisnya, di tengah kesibukan itu, ada sesuatu yang justru perlahan menghilang: waktu untuk mendengarkan murid. Guru semakin sibuk mengisi formulir daripada membaca keresahan peserta didik. Waktu yang semestinya digunakan untuk memberi umpan balik terhadap tulisan siswa, berdiskusi setelah pelajaran selesai, atau sekadar menanyakan kabar mereka, tersita oleh pekerjaan administratif yang seolah tidak pernah selesai.

Sekolah tampak semakin tertata dari luar, tetapi belum tentu semakin hidup dari dalam. Paradoks seperti ini sebenarnya tidak hanya tampak dalam urusan akreditasi. Fenomena kecerdasan buatan (AI) memperlihatkan gejala yang hampir sama. Hari ini seorang peserta didik dapat menghasilkan makalah yang sangat rapi hanya dalam hitungan menit. Bahasanya indah, referensinya banyak, bahkan nyaris tanpa kesalahan tata bahasa. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali isi tulisannya, tidak sedikit yang justru terdiam.

READ -  Saat Negara Takut Pada Simbol One Piece, Sementara Bumi Menjerit

Persoalannya tentu bukan pada AI. Teknologi hanyalah alat, sebagaimana kalkulator tidak pernah salah sebab membantu menghitung. Yang menjadi persoalan adalah ketika pendidikan mulai lebih menghargai hasil daripada proses. Padahal, belajar tidak pernah sekadar menemukan jawaban yang benar. Belajar adalah perjalanan membangun cara berpikir, melatih keraguan, menguji argumentasi, menerima kesalahan, lalu perlahan menemukan pemahaman yang lebih utuh. Semua proses itu tidak dapat digantikan oleh mesin secanggih apa pun.