Ada masa ketika saya membaca sastra hanya untuk menikmati keindahan bahasa. Sebaris puisi membuat hati tenang, sebuah cerpen meninggalkan kesan yang panjang, dan sebuah novel menghadirkan kehidupan yang seolah lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Namun, semakin lama saya bergumul dengan sastra, semakin saya menyadari bahwa karya sastra tidak pernah berhenti pada keindahan. Ia selalu menyimpan pertanyaan.
Mengapa kata-kata sederhana mampu mengguncang batin? Mengapa sebuah metafora dapat mengubah cara kita memandang dunia? Dan mengapa sebuah cerita fiksi justru terasa lebih jujur daripada laporan tentang kenyataan? Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan membawa saya memasuki wilayah yang lebih sunyi, yakni filsafat.
Saya teringat puisi Sapardi Djoko Damono yang begitu akrab di telinga banyak orang: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.” Larik itu tampak begitu sederhana, tetapi justru di sanalah kekuatannya. Apa yang dimaksud dengan sederhana? Apakah sekadar tanpa kemewahan? Ataukah ia adalah bentuk penerimaan terhadap keterbatasan manusia? Mungkin pula ia adalah cara cinta membebaskan diri dari hasrat untuk memiliki.
Satu kata membuka begitu banyak kemungkinan tafsir. Di situlah saya mulai memahami bahwa bahasa tidak pernah selesai pada makna kamus. Bahasa selalu bergerak bersama pengalaman pembacanya.
Hal yang sama saya rasakan ketika membaca cerpen-cerpen Danarto. Tokoh-tokohnya dapat berjalan di pasar, berbincang dengan orang-orang biasa, lalu tiba-tiba memasuki pengalaman yang melampaui logika. Dunia nyata dan dunia ruhani tidak dipisahkan oleh tembok yang tebal. Keduanya berkelindan menjadi satu pengalaman yang utuh. Danarto seakan mengingatkan bahwa realitas bukan hanya apa yang dapat disentuh oleh pancaindra. Ada lapisan-lapisan makna yang hanya dapat didekati melalui simbol, imajinasi, dan pengalaman batin.

