Ekspansi masif ritel modern seperti Indomaret hingga ke beberapa pelosok desa di Madura bukan sekadar fenomena bisnis biasa, melainkan bentuk ekspansi kapitalisme predatoris yang perlahan tapi pasti sedang memutus urat nadi ekonomi rakyat lokal. Madura, yang secara historis dikenal memiliki resistensi budaya yang kuat dan kemandirian ekonomi berbasis pasar tradisional serta toko kelontong, kini sedang dijajah secara ekonomi oleh gurita korporasi Sembilan Naga.
Kehadiran ritel modern ini di wilayah pedesaan adalah bentuk kanibalisme ekonomi nyata yang difasilitasi oleh ketidakberdayaan, atau bahkan perselingkuhan antara pembuat kebijakan lokal dan pemilik modal.
Dari aspek kebijakan, maraknya izin yang turun untuk ritel modern di tingkat pedesaan mencerminkan kegagalan total pemerintah daerah dalam melindungi aset paling berharga mereka, yaitu rakyat kecil. Kebijakan investasi yang digembar-gemborkan membawa kemajuan dan lapangan kerja lokal hakikatnya hanyalah ilusi pemanis atas penindasan ekonomi.
Pada realitasnya, keuntungan yang diraup dari setiap transaksi di kasir Indomaret tidak pernah berputar di Madura, melainkan langsung terbang ke rekening pusat korporasi di Jakarta. Pemerintah daerah buta bahwa dengan menandatangani izin operasional ritel modern ini, mereka secara tidak langsung menerbitkan surat kematian bagi ratusan toko kelontong milik warga sekitar yang modalnya tak mungkin bersaing dengan sistem manajemen raksasa.

