Namun, meskipun buah sukun melimpah, pemanfaatannya masih belum maksimal. Pasalnya, sejauh ini warga hanya memanfaatkan buah sukun untuk konsumsi sendiri atau dijual dalam bentuk segar.
Namun, setelah adanya pelatihan ini, Kresna berharap bisa memberikan edukasi dan nilai tambah. dan mampu mendorong tumbuhnya usaha rumahan berbasis pangan.
“kami ingin menunjukkan bahwa buah sukun tidak hanya dikonsumsi secara langsung, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang memiliki peluang pasar”, ujarnya.
Di sisi yang sama Ahmad Adit Saputra, Ketua Tim KKN Tematik 23 berharap hasil olahan dari sukun dapat dikembangkan menjadi produk unggulan desa.
Menurutnya, apabila dikelola secara konsisten, potensi buah sukun yang melimpah di Desa Maindu dapat menjadi produk unggulan desa sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Melalui kolaborasi PKM dan KKN tersebut, Unirow berharap Desa Maindu tidak hanya dikenal dengan pengasil buah sukun. Tetapi juga menjadi sentra produk olahan pangan lokal yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

