Jakarta — Dominasi Nvidia Corporation di pasar kecerdasan buatan (AI) China dilaporkan mulai menyusut. CEO Nvidia, Jensen Huang, mengakui bahwa pengetatan pembatasan ekspor chip AI canggih yang diberlakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu utama penurunan posisi pasar perusahaan.
Kebijakan Washington yang semula bertujuan menekan laju teknologi Beijing, kini justru menjadi bumerang bagi raksasa semikonduktor asal Santa Clara tersebut. Menurut Huang, celah pasar yang ditinggalkan Nvidia kini dimanfaatkan dengan cepat oleh raksasa teknologi domestik China, seperti Huawei, untuk mempercepat kemandirian teknologi mereka.
Huang merefleksikan bahwa posisi Nvidia di China saat ini tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu akibat eskalasi perang dagang. Selama ini, pasar China menjadi salah satu pilar pendapatan terbesar bagi Nvidia.
Namun, keterbatasan pasokan akibat regulasi geopolitik memaksa ekosistem teknologi Negeri Tirai Buku bergerak dinamis. Industri lokal China terbukti mampu merespons tekanan global dengan mengembangkan ekosistem chip dan sistem AI mandiri secara cepat guna menggantikan produk asal AS.
Di lini terdepan, Huawei kian agresif meluncurkan solusi chip AI alternatif guna memenuhi lonjakan permintaan domestik. Langkah ini tidak hanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan produk Nvidia, tetapi juga mengubah peta persaingan industri semikonduktor global menjadi kian kompetitif dan terpolarisasi.

