Lebih menarik lagi, tagline itu didukung oleh maskot perempuan yang diberi identitas sebagai “Mbok Darmi”. Kehadiran maskot tersebut membuat pronomina -ku dalam kata susuku memperoleh rujukan yang jelas sebagai suara sang tokoh. Akibatnya, slogan itu dapat dipahami sebagai, “Sehatkan tubuhmu dengan susu yang saya jual.” Namun, pada saat yang sama, pembaca juga sulit menghindari asosiasi lain, yakni “Sehatkan tubuhmu dengan payudaraku.” Kedua tafsir itu hidup berdampingan tanpa pernah dinyatakan secara vulgar. Justru sebab dibiarkan menggantung, slogan tersebut bekerja sebagai bentuk strategic ambiguity, yakni penggunaan ketaksaan secara sengaja untuk memperkuat perhatian dan memancing percakapan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa Susu Mbok Darmi bukan sekadar memilih nama yang unik. Ia membangun sebuah ekosistem tanda. Nama merek menghadirkan ketaksaan semantik, maskot menghadirkan subjek penutur, sementara tagline mempertahankan ketaksaan tersebut pada tataran pragmatik. Ketiganya saling menguatkan sehingga membentuk identitas merek yang utuh.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui semiotika Roland Barthes. Menurut Barthes, sebuah tanda selalu bekerja pada dua tingkat, yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi kata susu adalah minuman bergizi. Akan tetapi, dalam kebudayaan, kata itu juga membawa konotasi mengenai keibuan, tubuh perempuan, kesuburan, sensualitas, bahkan erotisme. Seluruh konotasi tersebut bertemu dalam satu nama sederhana, “Susu Mbok Darmi.”

