Bangkalan – Sakib Mahmud, yang yang dikenal Mahmudi menjadi perhatian di ruang literasi dan diskusi intelektual melalui dua karya yang saling terhubung: Humanisme Samawi dan Dialektika Gen Z. Keduanya lahir dari kegelisahan yang sama, namun bergerak di dua medan yang berbeda: fondasi nilai dan realitas generasi.
Humanisme Samawi menjadi pijakan awal. Buku ini menawarkan pembacaan bahwa kemanusiaan tidak harus dipisahkan dari wahyu, melainkan justru menemukan kedalaman maknanya di sana.
Buku ini lahir dari kegelisahan sederhana: ketika manusia makin maju secara teknologi, tapi justru makin kehilangan makna hidupnya,” ujar Mahmudi sapaan karibnya.
Ia melihat bahwa perdebatan antara agama dan humanisme sering terjebak dalam oposisi yang sempit. “Saya tidak ingin mempertentangkan agama dan humanisme. Saya justru ingin menunjukkan bahwa keduanya bisa bertemu dalam satu ruang etis yang sama: pemuliaan manusia.”
Dari fondasi itulah lahir karya berikutnya, Dialektika Gen Z. Jika buku pertama berbicara tentang nilai dan horizon kemanusiaan, buku kedua bergerak lebih dekat ke realitas: kegelisahan generasi muda, tarik-menarik identitas, kebebasan, makna hidup, dan tekanan zaman digital.
Bagi Sakib, Gen Z bukan sekadar kategori demografis, melainkan ruang dialektika yang memperlihatkan perubahan cara manusia memahami diri dan dunia. Ia melihat generasi ini hidup di tengah limpahan informasi, tetapi sering berhadapan dengan kekosongan makna.

