Menurut Mahmudi, SATRIA JATIM tidak mempersoalkan tujuan MBG yang ingin memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Namun, tujuan tersebut harus berjalan beriringan dengan jaminan keamanan bagi penerima manfaat.
Ia menilai apabila sistem yang digunakan saat ini memiliki kelemahan hingga menimbulkan korban, maka pemerintah harus berani melakukan perubahan fundamental, bukan hanya memperbaiki persoalan di permukaan.
“Kami tidak mempersoalkan tujuan programnya. Pemenuhan gizi masyarakat tentu merupakan tujuan yang baik. Tetapi ketika dalam pelaksanaannya muncul persoalan sampai menelan korban, berarti ada sesuatu yang harus dikoreksi secara mendasar, terutama dari sisi skema dan pengawasannya.”
Salah satu gagasan yang disampaikan SATRIA JATIM adalah mengkaji model penyediaan makanan berbasis sekolah. Mahmudi mencontohkan sistem kantin sekolah di Jepang yang menurutnya dapat menjadi salah satu referensi dalam merancang skema baru.
“Tidak harus meniru Jepang secara mentah. Tetapi model kantin sekolah bisa menjadi salah satu referensi. Makanan disiapkan dan dikonsumsi di lingkungan sekolah sehingga pengawasan dapat dilakukan lebih dekat dan rantai distribusi bisa diperpendek.”
Menurut Mahmudi, formulasi ulang tidak hanya menyangkut tempat penyediaan makanan, tetapi juga keseluruhan rantai penyelenggaraan MBG, mulai dari pengadaan bahan pangan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, standar keamanan pangan, pengawasan hingga mekanisme pertanggungjawaban.

