Yang lebih memprihatinkan, hingga berita ini ditulis masih terdapat korban yang disebut belum mendapatkan penanganan maksimal. Warga bersama sejumlah pihak masih melakukan pendataan dan penyisiran terhadap kemungkinan adanya korban lain yang belum terlaporkan.
“Warga saya sampai sekarang masih ada yang tertinggal dan belum dilarikan ke rumah sakit. Kami bersama warga masih menyisir korban-korban yang belum tertangani pelayanan kesehatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Kokop, Zaitun, belum memberikan keterangan rinci terkait dugaan keracunan massal tersebut. Saat dihubungi, ia mengaku tengah menerima kunjungan Ketua Satgas MBG Kabupaten Bangkalan.
“Masih ada tamu, Ketua Satgas MBG Kabupaten Bangkalan, mas. Nanti saya hubungi kembali,” ujarnya singkat.
Pernyataan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa telah terjadi kejadian luar biasa yang berkaitan dengan konsumsi MBG di wilayah Kokop. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai hasil pemeriksaan medis maupun uji laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.
Masyarakat kini menunggu langkah cepat pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, Satgas MBG, serta aparat terkait untuk mengungkap penyebab pasti insiden tersebut. Jika terbukti terjadi kelalaian dalam proses penyediaan makanan, maka pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Kasus ini menjadi ujian serius bagi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Bangkalan. Program yang digadang-gadang untuk meningkatkan kualitas generasi muda jangan sampai justru berubah menjadi ancaman kesehatan bagi para pelajar yang menjadi sasaran utamanya.

