Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap berbagai komponen impor. Banyak industri nasional bergantung pada bahan baku, mesin, teknologi, hingga energi yang berasal dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor meningkat secara otomatis.
Dalam teori ekonomi internasional, kondisi ini dikenal sebagai Exchange Rate Pass-Through, yaitu proses ketika perubahan nilai tukar diterjemahkan menjadi perubahan harga domestik. Semakin tinggi ketergantungan suatu negara terhadap impor, semakin besar pula dampak pelemahan mata uang terhadap tingkat inflasi.
Akibatnya, biaya produksi berbagai sektor meningkat. Pelaku usaha menghadapi dilema antara menanggung kenaikan biaya atau menaikkan harga jual. Dalam banyak kasus, sebagian beban tersebut akhirnya dialihkan kepada konsumen.
Masyarakat kemudian merasakan dampaknya melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Harga pangan meningkat, biaya transportasi naik, serta harga barang-barang konsumsi menjadi semakin mahal. Pada saat yang sama, pertumbuhan pendapatan masyarakat tidak selalu mampu mengikuti laju kenaikan harga tersebut.
Di sinilah persoalan daya beli menjadi sangat penting.
John Maynard Keynes menempatkan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu komponen utama pertumbuhan ekonomi. Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Ketika daya beli masyarakat melemah, konsumsi akan menurun. Ketika konsumsi menurun, pendapatan pelaku usaha ikut berkurang. Ketika pendapatan usaha menurun, investasi dan penciptaan lapangan kerja juga berpotensi melambat.

