Kekecewaan juga disampaikan Abdulloh, pemuda Desa Mandung, yang menilai kejadian ini sebagai bentuk kelalaian serius dalam pelaksanaan program publik.
“Ini bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi menunjukkan ada yang salah secara sistem. Program yang menyangkut kesehatan tidak boleh dijalankan setengah hati,” tegasnya.
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan sebagai faktor utama terjadinya masalah tersebut. Menurutnya, kontrol yang ketat seharusnya mampu mencegah distribusi makanan yang tidak layak.
Program MBG membawa mandat besar: memastikan asupan gizi yang layak bagi pelajar. Karena itu, aspek kebersihan, keamanan pangan, dan kualitas konsumsi menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar. Temuan di Bangkalan dinilai mencerminkan adanya celah serius dalam sistem, mulai dari proses pengolahan hingga distribusi.
Masyarakat, khususnya pemuda Desa Mandung, mendesak dilakukannya evaluasi total terhadap dapur SPPG Mandung Kokop. Evaluasi tersebut mencakup standar operasional pengolahan makanan, sistem sanitasi, hingga mekanisme distribusi di lapangan.
Selain itu, mereka juga menuntut transparansi dan pertanggungjawaban terbuka kepada publik sebagai bentuk komitmen perbaikan.
Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam program MBG. Tanpa perbaikan yang konkret dan menyeluruh, program yang seharusnya menjadi solusi justru berpotensi kehilangan esensinya.
Lebih jauh, kondisi ini dapat menggerus kepercayaan publik terhadap program bantuan pemerintah. Masyarakat menegaskan bahwa yang mereka harapkan bukanlah hal berlebihan melainkan makanan yang bersih, layak, dan aman untuk dikonsumsi.
