Bangkalan — Puluhan pelajar yang baru bergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan IPPNU mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Modung III, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, pertengahan Februari 2026.
Kegiatan kaderisasi dasar ini tidak hanya mengenalkan struktur organisasi dan nilai ke-NU-an, tetapi juga menekankan pentingnya literasi melalui Gerakan 1001 Buku untuk Bangkalan.
Makesta menjadi tahap awal pembentukan karakter pelajar Nahdliyin agar memiliki kesadaran intelektual, kepemimpinan, serta kepekaan sosial di tengah tantangan zaman seperti rendahnya minat baca, maraknya informasi instan di media sosial, dan lemahnya budaya berpikir kritis.
Isu literasi menjadi materi utama dalam kegiatan tersebut. Founder Komunitas Pendekar Literasi, Moh Sufyan, menegaskan bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca huruf, melainkan kemampuan memahami makna, menganalisis konteks, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan.
“Nilai literasi adalah fondasi pola pikir dan intelektual. Membaca membentuk cara berpikir kritis, reflektif, dan terbuka terhadap realitas sosial,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia menilai rendahnya budaya literasi berpengaruh langsung pada kualitas demokrasi, partisipasi sosial, serta kerentanan generasi muda terhadap hoaks dan propaganda. Karena itu, Komunitas Pendekar Literasi menggagas Gerakan 1001 Buku dengan menghimpun donasi buku dari masyarakat, mahasiswa, aktivis, dan lembaga pendidikan untuk disalurkan kepada pelajar di Bangkalan.
