Bangkalan – Sikap tertutup ditunjukkan Kepala SPPG MBG Yayasan Nurul Islam Blega dan Kapolsek Blega terkait laporan dugaan keracunan yang menimpa sejumlah siswa serta guru di SMPN 1 Blega usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selasa, 21/04/2026).
Hingga berita ini diterbitkan, keduanya kompak memilih bungkam saat dikonfirmasi wartawan. Pesan yang dikirim melalui WhatsApp pribadi tidak mendapat balasan, sementara panggilan telepon juga tidak diangkat.
Padahal, insiden tersebut disebut telah dilaporkan pihak sekolah ke Mapolsek Blega sesaat setelah para korban mengalami gejala keracunan.
Sikap diam dari pihak penyelenggara distribusi MBG maupun aparat penegak hukum memicu tanda tanya publik. Transparansi penanganan kasus dinilai penting, mengingat program MBG merupakan program yang menyangkut kesehatan dan keselamatan peserta didik.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah siswa SMPN 1 Blega bersama satu orang guru yang bertugas sebagai tim pencicip MBG di sekolah mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan yang didistribusikan oleh SPPG Yayasan Nurul Islam. Para korban bahkan sempat dilarikan ke Puskesmas setempat untuk mendapatkan penanganan medis.
Masyarakat kini menunggu langkah tegas dan penjelasan resmi dari pihak terkait, baik mengenai penyebab dugaan keracunan, standar kelayakan makanan yang dibagikan, maupun tindak lanjut atas laporan yang telah masuk ke kepolisian. Jika terus bungkam, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap program MBG akan ikut tergerus.
