Ia mempertanyakan urgensi serta dasar kebijakan yang melibatkan institusi pendidikan tinggi dalam pengelolaan dapur MBG. Menurutnya, kalau harapannya untuk menjadi teaching factory dalam pelaksanaan tridharma, sudah cukup perguruan tinggi menjamin kecerdasan, menanamkan nilai kritis, serta kemajuan daerah dan pengabdian terhadap masyarakat.
“Saya khawatir apabila kampus terlalu jauh masuk dalam pengelolaan program MBG, takut akan terjadi pengaburan fungsi dan peran perguruan tinggi sebagai lembaga independen dan kritis terhadap kebijakan publik,” tuturnya.
“Pernayataan ini kami buat sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sikap kritis mahasiswa terhadap arah kebijakan kampus, yang notabene Universitas Trunojoyo Madura menjadi satu-satunya kampus negeri yang memiliki integritas tinggi,” pungkasnya.
