Opini  

Diamnya Pemerintah di Tengah Tanah yang Tak Pernah Diam

jatiminfo.id

Ada ironi yang pelan-pelan menjadi kebiasaan. Ketika peluang terbuka, yang maju bukan selalu mereka yang mampu, tetapi mereka yang dekat. Rekrutmen yang seharusnya menjadi ruang meritokrasi justru bergeser menjadi ruang kompromi. Dalam perspektif merit system, hal ini adalah awal dari kemunduran institusi ketika kompetensi dikalahkan oleh kedekatan, maka kualitas akan kalah oleh kepentingan. Dan jika ini terus dibiarkan, ia bukan lagi kesalahan, melainkan pola yang diwariskan.

Pola ini tidak hanya merugikan individu yang tersisih, tetapi juga merugikan sistem secara keseluruhan. Orang-orang yang memiliki kapasitas dan ide segar kehilangan ruang untuk berkontribusi, sementara mereka yang berada di posisi strategis tidak selalu memiliki kemampuan untuk membawa perubahan. Akibatnya, inovasi terhenti, kreativitas terhambat, dan organisasi berjalan di tempat. Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan lingkaran stagnasi yang sulit diputus.

READ -  Problem Demokrasi, Bukan Sekadar Soal Efisiensi

Gaya seperti ini, jika terus berlangsung, akan melahirkan apa yang disebut sebagai institutional decay pelemahan sistem secara perlahan karena nilai-nilai dasarnya ditinggalkan. Masyarakat menjadi apatis, pemerintah kehilangan kepercayaan, dan potensi daerah terkubur oleh ketidakseriusan. Kita tidak sedang kekurangan sumber daya, kita hanya kekurangan keberanian untuk mengelolanya dengan benar. Dan yang lebih mengkhawatirkan, kita mulai terbiasa dengan keadaan ini, seolah-olah stagnasi adalah sesuatu yang wajar.