Ada yang menarik ketika saya berdiskusi dengan dua orang yang sudah lama hidup membersamain dengan topeng malangan. Pak Handoyo, seorang penerus seni di Kabupaten Malang, dan Ibu Sol, perempuan yang lahir dan besar di lingkungan di mana seni ini tumbuh. Keduanya bicara dengan cara yang berbeda, tapi pesan yang yang sama terasa jelas adalah topeng malangan itu bukan sekadar kesenian lama yang di tinggal nama. Ia masih hidup. Tapi hidupnya tidak mudah.
Topeng Malangan sendiri bukan sesuatu yang datang tiba tiba. Ibu sol menceritakan bahwa kesenian ini sudah ada sejak lama di daerahnya. Dimulai oleh sesepuh bernama Bakarimon yang menjadi pendiri. Sementara Pak Handoyo menjelaskan bahwa topeng-topeng itu menggambarkan tokoh-tokoh dari zaman kerajaan kediri ada empat perwakilan besar adalah tokoh baik, tokoh jahat, tokoh lucu, dan tokoh binatang.

Bukan sekedar hiasan, melainkan cerminan dari nilai-nilai yang ingin diwariskan. “Yang disampaikan itu pembelajaran hidup yang baik, yang dulu pernah dicontohkan oleh leluhur kita pada zaman dahulu dan itu yang ingin kami sampaikan kepada anda muda sekarang.” _Pak Handoyo Kalimat itu mudah, namun memiliki makna yang dalam menyampaikan “pembelajaran hidup dari leluhur” kepada anak muda zaman sekarang bukan perkara sederhana.

