Opini  

Topeng Malangan Masih Ada, Tapi Siapa Yang Benar-benar Menjaganya?

jatiminfo.id
Topeng Malangan yang diperoleh Chelsea Mutia Hutagaol.

Tanpa dalang, pertunjukan Topeng Malangan kehilangan rohnya. Tari tanpa cerita hanya menjadi tontonan gerak indah mungkin, tapi kosong dari makna yang seharusnya disampaikan. Kalau kita hanya fokus menjaga tariannya saja tanpa peduli dengan keberlangsungan unsurunsur lainnya, maka yang kita lestarikan hanya kulitnya, bukan isinya.

Dari sisi Ibu Sol, ada satu hal kecil yang terdengar sederhana tapi sangat masuk akal anak-anak butuh panggung. Bukan latihan saja, tapi kesempatan untuk tampil, dilihat, dan diapresiasi. Menurut ibunya, ketika ada event atau pertunjukan, semangat anak-anak untuk berlatih langsung berbeda.

Mereka punya tujuan, tapi kalau hanya latihan tanpa ada ujungnya, lama-lama motivasi itu menguap. Ini sebenarnya berlaku untuk hampir semua hal orang belajar lebih giat ketika ada ruang untuk membuktikan hasil belajarnya. Maka perbanyak event bukan sekadar soal meramaikan kalender budaya kota. Itu adalah cara paling ampuh untuk menjaga nyala semangat generasi muda yang sedang belajar mencintai seni ini.

READ -  Presiden dan Rasionalitas Terbatas dalam Solusi Kendaraan Listrik

Ibu Sol juga menyebut hal yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir, Topeng Malangan mulai kembali diminati. Dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Di sekolahsekolah, kesenian ini sudah masuk sebagai ekstrakurikuler dari SD sampai SMA. Artinya benih itu ada, tinggal bagaimana kita menyiramnya dengan serius bukan hanya di atas kertas program kerja, tapi benar-benar hadir dan mendukung.