Bangkalan — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan menjadi solusi pemenuhan gizi pelajar di Kabupaten Bangkalan justru menuai sorotan keras. Distribusi makanan dari dapur SPPG Mandung Kokop ke Lembaga Assyarqowiyah dinilai jauh dari standar kelayakan, baik dari sisi kebersihan maupun kualitas pangan.
Sejumlah dokumentasi yang beredar memperlihatkan kondisi ompreng (wadah makanan) yang kotor dan tidak higienis. Sisa noda makanan yang masih menempel di bagian dalam wadah menimbulkan kekhawatiran serius terkait standar sanitasi dalam proses distribusi.

Tak hanya itu, kualitas makanan yang diterima juga dipersoalkan. Nasi yang dibagikan dilaporkan belum matang sempurna, sehingga tidak layak dikonsumsi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai proses produksi di dapur penyedia, apakah prosedur pengolahan telah dijalankan sesuai standar, atau sekadar formalitas tanpa pengawasan ketat.
Penerima manfaat, yakni para pelajar di Lembaga Assyarqowiyah, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan menjadi pihak yang langsung terdampak.
Guru di lembaga tersebut, Fatmala, menyatakan makanan yang diterima tidak dikonsumsi sama sekali karena dinilai tidak layak.
“Wadahnya sangat tidak pantas. Masih ada bekas nasi kering dan terlihat sangat kotor. Kami tidak berani memberikannya kepada siswa,” ujarnya.
