Opini  

Tacit Knowledge dan Ketakutan Menjadi Peneori

Heri Isnaini.

Pengetahuan semacam ini tidak seharusnya dipandang sebagai pengetahuan yang lebih rendah hanya sebab belum dikemas dalam bahasa akademik. Justru tugas intelektual adalah membaca pengalaman tersebut dengan cermat, merefleksikannya, menemukan pola di dalamnya, mengabstraksikannya, kemudian mengartikulasikan pengetahuan yang selama ini hidup dalam praktik.

Sebab itu, kalimat “saya sudah melakukan ini selama dua puluh tahun” sebenarnya baru merupakan awal, bukan akhir dari pengetahuan. Pengalaman dua puluh tahun menunjukkan bahwa seseorang memiliki kekayaan praktik, tetapi teori baru mulai muncul ketika pengalaman itu direfleksikan dan dari dalamnya ditemukan pola tertentu: pola yang muncul dalam kondisi tertentu, bekerja melalui mekanisme tertentu, memiliki batas tertentu, dan mungkin dapat menjelaskan praktik lain yang memiliki karakter serupa.

Perubahan dari “saya sudah melakukan” menjadi “saya menemukan prinsip” merupakan perubahan epistemologis yang penting, sebab pada titik tersebut pengalaman personal mulai bergerak menuju pengetahuan yang dapat dibagikan, diperdebatkan, diuji, dan dikembangkan. Di sinilah keberanian epistemologis diperlukan, yakni keberanian untuk mengakui bahwa pengalaman lokal tidak selalu hanya layak menjadi contoh dari teori yang sudah tersedia; dalam keadaan tertentu, pengalaman lokal justru dapat menjadi sumber lahirnya konsep dan teori baru.

Namun gagasan ini sama sekali bukan ajakan untuk membuang teori Barat. Persoalannya bukan Barat atau bukan Barat, melainkan ketimpangan arah produksi pengetahuan. Kita tidak perlu menolak Foucault, Derrida, Bourdieu, Barthes, atau pemikir lainnya hanya sebab mereka berasal dari tradisi pemikiran yang berbeda. Yang perlu kita ubah adalah hubungan kita dengan teori tersebut.

Exit mobile version