Namun di balik seekor ikan yang hari ini mudah ditemukan di pasar dan meja makan itu terdapat kisah tentang seseorang yang belajar melalui praktik. Mbah Mujair tertarik pada ikan yang ditemuinya di kawasan pesisir Blitar, membawanya pulang, lalu mencoba memeliharanya di air tawar. Ikan itu mati. Ia tidak berhenti pada kegagalan pertama, melainkan mencoba kembali, mengubah kondisi air, mengamati apa yang terjadi, mengulangi percobaan, melakukan penyesuaian, dan terus berhadapan dengan kenyataan sampai akhirnya menemukan kemungkinan bahwa ikan tersebut dapat bertahan hidup di lingkungan air tawar.
Jika hari ini kita membaca peristiwa itu dengan perangkat ilmu pengetahuan modern, kita dapat menjelaskannya melalui istilah adaptasi, salinitas, fisiologi ikan, osmoregulasi, lingkungan, dan berbagai konsep biologis lainnya. Akan tetapi, ada satu hal yang patut kita renungkan: praktik tersebut telah berlangsung sebelum istilah-istilah ilmiah itu hadir untuk menjelaskannya.
Mbah Mujair tentu tidak sedang duduk di sebuah laboratorium dengan jas putih, mikroskop, dan seperangkat instrumen penelitian sebagaimana yang selama ini kita bayangkan sebagai ruang sah bagi produksi pengetahuan. Ia juga tidak sedang menyusun hipotesis dalam bahasa metodologi penelitian, tidak sedang menghitung kemungkinan publikasi di jurnal internasional, dan barangkali tidak pernah membayangkan bahwa nama dirinya kelak melekat pada ikan yang dikenal luas.
