Di sinilah gagasan tentang meneorikan praktik menjadi penting. Mempraktikkan teori relatif lebih mudah sebab peta perjalanan telah tersedia. Konsep telah dirumuskan, kategori telah dibangun, hubungan antarkonsep telah dijelaskan, dan berbagai asumsi telah diperdebatkan oleh orang-orang yang datang sebelumnya. Kita tinggal membawa pengetahuan tersebut ke dalam ruang praktik, mengujinya, menerapkannya, menyesuaikannya, atau mengembangkannya.
Sebaliknya, ketika kita berangkat dari praktik menuju teori, kita tidak lagi memiliki peta yang sepenuhnya siap digunakan. Kita harus belajar membaca pengalaman, menemukan pola di antara berbagai peristiwa, membedakan kebetulan dari kecenderungan, melakukan abstraksi, membangun konsep, mencari hubungan antarkonsep, kemudian mempertanggungjawabkan temuan tersebut secara argumentatif.
Jalur pengetahuannya menjadi lebih panjang dan berliku: praktik melahirkan pengalaman, pengalaman mendorong refleksi, refleksi membuka kemungkinan abstraksi, abstraksi melahirkan konsep, dan konsep yang saling berkelindan dapat berkembang menjadi teori. Justru pada tahap inilah kita sering gagap, sebab kita jauh lebih terbiasa bertanya teori apa yang dapat digunakan daripada bertanya teori apa yang mungkin dilahirkan oleh praktik.
Kegagapan itu tampak ketika kita berhadapan dengan pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. Kita sering menyebutnya sebagai kearifan lokal, tradisi, warisan leluhur, pengetahuan masyarakat, atau praktik kebudayaan. Istilah-istilah tersebut tentu memiliki fungsi penting, tetapi persoalannya adalah kita sering merasa telah selesai menjelaskan sesuatu hanya dengan memberinya nama.
