Opini  

Siapa yang Antidemokrasi? Ketika Tuntutan Keterbukaan Dijawab dengan Tuduhan Premanisme

jatiminfo.id
Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara Institut Bahri Asyiq (INSTIBA) Bangkalan.

HMP HTN memandang bahwa kritik yang disampaikan bukanlah bentuk permusuhan terhadap institusi ataupun penyelenggara pemilihan. Kritik merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa dalam menjaga agar demokrasi kampus tidak kehilangan ruhnya. Sebab, demokrasi yang sehat selalu menyediakan ruang bagi perbedaan pendapat, sementara demokrasi yang takut terhadap kritik hanya akan melahirkan kekuasaan yang rapuh secara legitimasi.

Karena itu, yang sedang diperjuangkan bukan sekadar penundaan atau pengulangan tahapan pemilihan, melainkan penegakan prinsip-prinsip dasar demokrasi itu sendiri. Jika proses yang sejak awal dipertanyakan transparansinya tetap dipaksakan berjalan tanpa evaluasi yang objektif, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil pemilihan, melainkan kepercayaan mahasiswa terhadap sistem organisasi kemahasiswaan secara keseluruhan. Kritik tidak akan pernah menjadi ancaman bagi demokrasi.

READ -  Ketika Pesantren Menjadi Ruang Sunyi Kekerasan, Negara Tidak Boleh Bungkam

Ancaman sesungguhnya adalah ketika pertanyaan dibungkam, aspirasi diabaikan, dan ketidakjelasan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Sebab sejarah selalu mencatat bahwa demokrasi tidak runtuh karena terlalu banyak kritik, tetapi karena terlalu banyak pihak yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan.

HMP HTN dengan tegas akan tetap berdiri pada posisi yang sama yakni, mengawal konstitusionalitas, menjaga integritas proses, dan memastikan bahwa demokrasi kampus tidak berubah menjadi sekadar seremonial tanpa makna. Sebab lebih baik memperjuangkan demokrasi yang benar meski tidak populer, daripada membiarkan praktik yang keliru memperoleh legitimasi hanya karena tidak ada yang berani mempertanyakannya.