Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.200 per Dolar AS, Ini Dampak Besar yang Mengintai Perekonomian

jatiminfo.id
Rupiah anjlok

Di sektor energi, pelemahan rupiah berpotensi menambah beban anggaran negara. Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan bahan bakar. Ketika dolar menguat, biaya impor energi meningkat sehingga pemerintah harus menyediakan anggaran lebih besar apabila ingin mempertahankan subsidi energi dan menjaga harga bahan bakar tetap stabil.

Dampak lainnya adalah meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri. Pemerintah maupun perusahaan yang memiliki kewajiban dalam denominasi dolar AS harus menyediakan lebih banyak rupiah untuk membayar cicilan pokok maupun bunga utang. Kondisi ini dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah sekaligus menekan arus kas perusahaan.

Pasar keuangan juga berpotensi menghadapi gejolak. Pelemahan rupiah yang tajam sering kali diikuti meningkatnya kehati-hatian investor asing. Jika terjadi arus keluar modal dari pasar saham dan obligasi, tekanan terhadap nilai tukar dapat semakin besar.

READ -  Iuran BPJS Kesehatan Naik Bertahap di 2026: Ini Penjelasan Sri Mulyani

Meski demikian, pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif. Perusahaan eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS berpotensi menikmati kenaikan nilai pendapatan saat dikonversi ke rupiah. Sektor pertambangan, perkebunan, dan manufaktur ekspor menjadi kelompok yang berpeluang memperoleh keuntungan.

Namun, para ekonom mengingatkan bahwa manfaat bagi eksportir biasanya hanya dirasakan oleh sebagian sektor ekonomi. Sebaliknya, dampak kenaikan harga barang, tekanan inflasi, dan melemahnya daya beli masyarakat dapat dirasakan oleh lebih banyak lapisan masyarakat. Karena itu, stabilitas nilai tukar rupiah dinilai tetap menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.