Ia menambahkan, penggunaan microsite juga mendorong guru untuk terus meningkatkan kompetensi digital dalam mengelola pembelajaran berbasis teknologi.
Selain memudahkan akses materi, microsite juga dinilai mampu meningkatkan kemandirian belajar siswa. Dengan sistem ini, siswa dapat mengakses materi kapan saja dan di mana saja tanpa harus terbatas pada ruang kelas.
“Digitalisasi pembelajaran ini menjadi kebutuhan di era sekarang. Guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan efektif,” katanya.
Di UPTD SMPN 1 Konang, microsite tidak hanya digunakan untuk memuat materi pembelajaran, tetapi juga berisi berbagai informasi sekolah seperti profil sekolah, visi dan misi, sarana prasarana, kegiatan sekolah, hingga modul ajar guru.
Program digitalisasi ini juga terintegrasi dengan model pembelajaran AMIMAM yang diterapkan di sekolah tersebut. Model pembelajaran ini menekankan pada tiga tahapan proses belajar yang dirancang agar lebih menarik dan bermakna bagi siswa.
Rasid menjelaskan bahwa AMIMAM merupakan akronim dari tiga tahapan pembelajaran, yaitu kegiatan awal yang menyenangkan, kegiatan inti yang menggairahkan, serta kegiatan akhir yang mengesankan.
“Pembelajaran AMIMAM menekankan pada proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Guru dituntut mampu menciptakan suasana belajar yang menarik sejak awal, kemudian menggairahkan siswa pada kegiatan inti, dan diakhiri dengan kegiatan yang memberikan kesan mendalam bagi peserta didik,” jelasnya.
