Opini  

Membakar Terang di Ujung Negeri: Ratusan Miliar untuk Solar, Tapi Keadilan Energi Gelap

Ilustrasi Ratusan miliar rupiah dibakar setiap tahun untuk solar di PLTD kepulauan, namun listrik tetap tak andal potret tajam kegagalan efisiensi dan keadilan energi di wilayah pinggiran. (Foto: Istimewa).

Ia adalah terang yang memberi makna pada kehadiran negara.

Dan ketika terang itu harus “dibeli” dengan biaya yang sangat mahal, tetapi tetap tidak pasti, maka yang perlu dipertanyakan bukan lagi sekadar efisiensi anggaran.

Yang perlu dipertanyakan adalah arah kebijakan.

Apakah kita akan terus mempertahankan sistem yang mahal dan tidak berkelanjutan? Ataukah kita berani mengambil langkah strategis untuk berinvestasi pada solusi yang lebih cerdas, lebih adil, dan lebih sesuai dengan karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan?

Karena pada akhirnya, pilihan ini bukan hanya tentang energi.

Ini adalah tentang bagaimana negara memperlakukan wilayah pinggirannya. Tentang apakah pembangunan benar-benar merata, atau hanya terpusat di wilayah yang mudah dijangkau.

Dan selama ratusan miliar rupiah masih habis untuk membakar solar di mesin diesel, sementara listrik tetap sering padam, maka satu hal menjadi jelas:

Kita belum benar-benar menerangi negeri ini, kita baru sekadar menjaga agar ia tidak sepenuhnya gelap.

Exit mobile version