Namun pendekatan ini mengandung masalah mendasar: ia tidak menyelesaikan akar persoalan.
Ketergantungan pada diesel membuat sistem kelistrikan di kepulauan terjebak dalam lingkaran biaya tinggi. Semakin mahal harga bahan bakar, semakin besar beban yang harus ditanggung negara. Semakin sulit distribusi, semakin rentan sistem tersebut terhadap gangguan.
Dan yang paling krusial: sistem ini tidak memiliki keberlanjutan jangka panjang.
Padahal, alternatifnya bukan tidak ada.
Wilayah kepulauan seperti Sumenep justru memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Paparan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun menjadikan energi surya sebagai kandidat utama. Angin laut yang relatif stabil membuka peluang bagi pengembangan energi angin. Bahkan dalam beberapa kasus, kombinasi keduanya dapat menghasilkan sistem pembangkit hybrid yang jauh lebih efisien dan andal.
Teknologi untuk itu sudah tersedia. Biaya investasi awal memang tidak kecil, tetapi jika dibandingkan dengan pengeluaran tahunan yang terus berulang untuk solar, pilihan ini menjadi jauh lebih rasional secara ekonomi.
Dalam jangka panjang, sistem berbasis energi terbarukan tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada logistik yang kompleks. Energi dihasilkan di tempat, bukan diangkut dari jauh. Risiko gangguan berkurang, stabilitas meningkat.
Lebih dari itu, transisi ke energi terbarukan juga membuka peluang baru bagi masyarakat lokal, baik dalam bentuk lapangan kerja, peningkatan kapasitas teknis, maupun penguatan ekonomi berbasis sumber daya setempat.
