“Tantangan pendidikan hari ini menuntut civitas akademika tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang adaptif, kolaboratif, dan berdaya saing,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Dimas juga menyinggung kondisi pendidikan nasional yang masih menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan literasi dan numerasi pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD.
Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih adanya kesenjangan akses dan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Menurut Dimas, kondisi tersebut menjadi tantangan moral bagi mahasiswa FKIP sebagai calon pendidik sekaligus agen perubahan sosial.
“Pendidikan tidak cukup hanya berbicara soal nilai akademik, tetapi juga karakter, keadilan sosial, dan kemampuan beradaptasi di era digital,” tegasnya.
Ia menambahkan, kemajuan pendidikan tidak akan lahir dari sikap apatis dan pasif. Karena itu, mahasiswa diminta terus memperkuat budaya literasi, berpikir kritis, dan membangun kolaborasi demi menghadirkan perubahan di dunia pendidikan.
Sementara itu, Dekan FKIP UTM mengajak mahasiswa menjaga semangat intelektual dan memperkuat sinergi antara akademisi dan mahasiswa dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang progresif dan bermakna.
Menurutnya, perguruan tinggi akan memiliki nilai apabila mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan tanggung jawab sosial terhadap bangsa.

