Menjadi guru bukan sekadar perkara menguasai pengetahuan dan menyampaikannya kepada orang lain. Tanggung jawab seorang guru juga terletak pada cara ia memperlakukan pengetahuan, memperlihatkan keteladanan, dan membimbing murid agar sanggup memahami makna dari apa yang dipelajarinya. Persoalan ini sesungguhnya telah lama menjadi perhatian dalam kebijaksanaan Jawa, terutama melalui piwulang yang menempatkan pembentukan watak dan pengolahan diri sebagai bagian penting dari proses belajar. Dalam kerangka tersebut, guru tidak cukup dipahami sebagai orang yang berbicara di depan kelas, sebab proses pendidikan berlangsung pula melalui tindakan, pengalaman, dan kesanggupan seseorang menafsirkan kehidupan.
Pemikiran semacam itu dapat kita perbincangkan melalui Serat Wulangreh, karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV dari lingkungan Keraton Surakarta. Karya ini memuat tuntunan mengenai etika, pengendalian diri, pencarian pengetahuan, dan hubungan manusia dengan kebijaksanaan. Ketika membaca Serat Wulangreh, perhatian kita tidak semestinya berhenti pada nasihat yang diwariskan dari masa lampau. Yang lebih penting ialah menelaah bagaimana ajaran tersebut membangun pemahaman tentang manusia yang belajar, orang yang membimbing, serta tanggung jawab moral yang menyertai pengetahuan.
Dari titik itulah kita dapat menafsirkan guru rupa, guru sabda, guru laku, dan guru sejati sebagai empat dimensi refleksi tentang pendidikan. Keempat istilah ini perlu ditempatkan secara cermat. Rangkaiannya digunakan di sini sebagai kerangka konseptual untuk membaca kebijaksanaan Jawa, bukan sebagai klasifikasi baku yang telah terbukti disebutkan secara utuh dalam Serat Wulangreh. Pembedaan ini penting agar kita tidak mencampuradukkan ajaran yang benar-benar terdapat dalam naskah dengan pengembangan pemikiran yang kita bangun melalui pembacaan terhadapnya.
