Kata-kata pun tidak dengan sendirinya menjamin kebenaran. Seseorang dapat berbicara dengan fasih, menggunakan istilah yang rumit, dan mengutip banyak kitab tanpa sungguh-sungguh memahami persoalan yang dibicarakannya. Murid dapat menghafal definisi keadilan, tetapi belum tentu mampu mengenali ketidakadilan ketika menghadapinya dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, tugas guru bukan membuat murid bergantung pada kata-kata guru, melainkan menumbuhkan kemampuan untuk memahami alasan, menguji gagasan, dan membangun penilaian secara mandiri.
Guru Laku: Ketika Pengetahuan Menjadi Tindakan
Pengetahuan memperoleh ujian ketika berhadapan dengan kehidupan. Kita dapat mengetahui banyak hal tentang kesabaran, tetapi pengetahuan itu belum tentu bertahan ketika kepentingan pribadi terganggu. Kita dapat berbicara panjang lebar tentang kejujuran, tetapi nilai tersebut baru benar-benar diuji ketika berkata jujur menuntut keberanian menanggung akibatnya. Di antara mengetahui dan menjalani, terdapat jarak yang hanya dapat dijembatani melalui laku.
Salah satu bait Pupuh Kinanthi dalam Serat Wulangreh berbunyi:
Panggawe becik puniku,
gampang yen wus den lakoni,
angel yen durung kalakyan,
aras-arasen nglakoni,
tur iku den lakonana,
mupangati badaneki.
Bait ini dapat diterjemahkan secara bebas: perbuatan baik terasa mudah ketika sudah dibiasakan, tetapi terasa sulit ketika belum dijalankan. Meskipun seseorang enggan melakukannya, ia tetap dianjurkan untuk menjalankannya sebab perbuatan baik membawa manfaat bagi dirinya.
