Guru Rupa: Keteladanan yang Dapat Dibaca
Guru rupa dapat kita pahami sebagai sumber pembelajaran yang hadir melalui sesuatu yang dapat dilihat dan diamati. Rupa tidak terbatas pada penampilan fisik seseorang, tetapi mencakup perilaku, tindakan, dan peristiwa yang memperlihatkan nilai tertentu. Kehidupan sehari-hari menyediakan banyak contoh yang dapat kita pelajari, asalkan kita tidak berhenti pada apa yang terlihat di permukaan.
Seorang guru, misalnya, dapat menjelaskan pentingnya menghargai perbedaan di hadapan para murid. Akan tetapi, pemahaman murid tentang penghargaan itu akan memperoleh kedalaman berbeda ketika mereka menyaksikan gurunya memperlakukan setiap murid dengan adil, termasuk mereka yang memiliki kemampuan belajar lebih lambat atau berasal dari lingkungan sosial yang berbeda. Perilaku tersebut menjadi semacam teks yang dibaca tanpa harus selalu dijelaskan melalui kalimat-kalimat panjang.
Dalam psikologi pendidikan modern, gagasan ini berkelindan dengan social learning theory yang dikembangkan Albert Bandura (4 Desember 1925–26 Juli 2021), yang dikenal luas sebagai penggagas Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) yang kemudian berkembang menjadi Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory). Melalui teori tersebut, pembelajaran dipahami tidak hanya berlangsung melalui instruksi langsung, tetapi juga melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Individu dapat memperhatikan suatu tindakan, mengingatnya, kemudian mencoba menerapkannya sesuai dengan situasi yang dihadapi. Dengan demikian, keteladanan bukan sekadar unsur tambahan dalam pendidikan, melainkan salah satu jalan yang memungkinkan nilai dipelajari melalui pengalaman sosial.
