“Graha ini bukan sekadar gedung. Ini wadah untuk menyiapkan generasi yang sadar keumatan dan kebangsaan, tanpa harus menanggung beban materi seperti dulu,” ujar Muhlis.
Konsep Graha Yakusa sering dibandingkan dengan “akademia” ala Plato: sebuah ruang nonformal di mana manusia ditempa lewat dialog, perdebatan, dan pencarian makna. Di sini, kader tidak hanya belajar menjadi organisatoris, tetapi juga dilatih kepekaan sosial dan tanggung jawab kebangsaan.
“Saya ingin Graha ini menjadi rumah gagasan, kawah Candradimuka bagi pemuda, tempat mereka siap menghadapi tantangan bangsa,” tutup Muhlis Ali.
Di tengah perkembangan Kabupaten Malang, Graha Yakusa kini menjadi simpul penting bagi gerakan intelektual dan sosial nonformal. Dari rumah itu, proses kaderisasi berjalan pelan tapi pasti—menyulam kesadaran, menumbuhkan kepemimpinan, dan menyiapkan generasi yang kelak hadir bukan sekadar sebagai aktivis, tapi sebagai pengabdi bagi umat dan bangsa.
