Berbenah atau Berpura-pura? Ironi Disiplin ASN di Tengah Slogan Perubahan

jatiminfo.id
Rahman, Mahasiswa Hukum UII angkatan.

Jika fenomena semacam ini terjadi berulang dan menimbulkan keresahan publik, persoalannya tidak lagi bersifat individual, melainkan mengarah pada problem sistemik—lemahnya pengawasan internal, minimnya evaluasi kinerja, serta kemungkinan tumbuhnya budaya organisasi yang tidak menempatkan disiplin sebagai nilai utama.

Pada titik ini, slogan “berbenah dan berbuat lebih baik” berisiko menjadi retorika semata apabila tidak diikuti reformasi nyata dalam manajemen ASN, baik melalui penguatan sistem absensi, monitoring kinerja berbasis output, maupun penegakan sanksi yang adil dan konsisten tanpa pandang bulu.

Kritik masyarakat terhadap ASN yang berkeliaran di pusat perbelanjaan saat jam kerja bukanlah bentuk kebencian terhadap aparatur, melainkan tuntutan atas profesionalisme. ASN digaji dari uang rakyat, sehingga setiap menit waktu dinas adalah amanah publik. Ketika amanah itu diabaikan secara berulang, yang terkikis bukan hanya jam kerja, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap negara, terutama di tingkat lokal.

READ -  Hardiknas di Era Eksperimen Kebijakan: Pendidikan Dikorbankan oleh Uji Coba Tanpa Arah

Bangkalan tidak kekurangan slogan perubahan. Yang dibutuhkan adalah konsistensi antara visi kepala daerah dan etos kerja aparaturnya. Tanpa disiplin yang ditegakkan secara adil dan tegas, tata kelola pemerintahan yang baik hanya akan berhenti sebagai narasi, belum menjelma menjadi kenyataan.