Adapun dari sisi tingkat nyeri, sebanyak 23 lansia atau 76,66 persen mengalami nyeri sedang. Sebanyak tujuh lansia lainnya atau 23,33 persen mengalami nyeri berat.
Mayoritas peserta kegiatan merupakan perempuan, yakni sebanyak 22 orang atau 73,33 persen. Sementara delapan peserta lainnya atau 26,66 persen adalah laki-laki.
Data tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan nyeri sendi dan keterbatasan gerak masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian lansia.
Nyeri pada lutut membuat sebagian dari mereka lebih berhati-hati saat bergerak. Tidak sedikit pula yang memilih mengurangi aktivitas karena khawatir rasa sakit bertambah.
Padahal, berkurangnya aktivitas fisik secara berlebihan dapat menyebabkan tubuh semakin kurang bergerak. Otot di sekitar persendian dapat melemah dan kelenturan tubuh berkurang, yang pada akhirnya dapat memengaruhi keseimbangan saat beraktivitas.
Melalui program Senam Lutut “SEL PATUH”, para lansia diajak memahami bahwa menjaga kemampuan bergerak dapat dimulai dari latihan sederhana yang dilakukan sesuai kemampuan masing-masing.
Peserta terlebih dahulu mendapatkan penyuluhan mengenai osteoartritis, persoalan kesehatan yang umum dialami lansia, risiko jatuh, hingga upaya penatalaksanaan nyeri melalui pendekatan nonfarmakologis.
Penyuluhan dilakukan melalui metode ceramah yang dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab.
Setelah itu, para peserta mempraktikkan secara langsung gerakan Senam Lutut “SEL PATUH”.
