Saat belajar, saya menyimpan HP jauh dari saya, misalnya di laci, dan saya mengaktifkan mode jangan ganggu. Cara ini saya lakukan karena notifikasi Tiktok dan Instagram sering membuat saya menunda. Tanpa HP di dekat saya, fokus saya lebih terjaga dan tugas dapat diselesaikan tepat waktu. Dengan begitu, saya tidak lagi mengerjakan tugas dengan terburu-buru.
Membangun Disiplin Diri
Membuat jadwal saja tidak cukup tanpa adanya disiplin. Bagian ini merupakan tantangan terbesar bagi saya. Terkadang jadwal sudah tersusun dengan baik, namun ketika waktunya untuk mengerjakan, suasana hati sedang tidak baik sehingga tugas kembali ditunda.
Hal yang saya pelajari dari tulisan Malika (2025) adalah pentingnya memulai dari langkah kecil tanpa harus menunggu suasana hati yang baik atau tempat belajar yang ideal. Saya menerapkan prinsip tersebut dengan memaksa diri untuk menulis setidaknya satu paragraf ketika rasa malas muncul. Biasanya, setelah satu paragraf selesai, saya menjadi termotivasi untuk melanjutkan hingga selesai.
Dukungan dari teman sebaya juga sangat berpengaruh. Saya dan teman sekelas saling mengingatkan tentang tenggat tugas. Kami terkadang belajar bersama di kafe dan kos. Ketika melihat teman sudah mulai mengerjakan, saya merasa termotivasi untuk ikut mengerjakan. Meskipun demikian, saya menyadari bahwa pada akhirnya perubahan harus datang dari diri sendiri. Teman hanya dapat mengingatkan, sedangkan yang mengerjakan tetap diri kita sendiri.
