Opini  

Mojo Bangkit atau Mojo Bangkrut?

Mahmudi.

Bangkit adalah kata yang indah. Di dalamnya terdapat harapan, optimisme, dan janji tentang masa depan yang lebih baik. Bangkit berarti keluar dari keterpurukan menuju kemajuan. Bangkit berarti rakyat merasakan perubahan nyata dalam kehidupannya. Bangkit berarti pembangunan hadir untuk manusia, bukan manusia yang dipaksa menyesuaikan diri dengan pembangunan.

Karena itu, ketika slogan “Mojo Bangkit” terus dikumandangkan di berbagai ruang publik, masyarakat Kota Mojokerto tentu berharap bahwa kebangkitan tersebut bukan sekadar identitas politik, melainkan realitas sosial yang benar-benar dapat dirasakan.

Namun pertanyaan yang semakin mengemuka hari ini adalah: apakah yang bangkit benar-benar rakyatnya, atau hanya seremoninya saja?. Pertanyaan ini tidak lahir dari kebencian terhadap pemerintah daerah, melainkan dari kegelisahan terhadap arah pembangunan yang tampaknya semakin menjauh dari kebutuhan riil masyarakat.

Kirab budaya digelar dengan meriah. Festival demi festival diselenggarakan. Slogan kebangkitan dipasang di berbagai sudut kota. Semua itu tentu patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya menjaga identitas budaya Mojokerto yang berakar pada kebesaran Majapahit.

Namun kebudayaan tidak boleh menjadi tirai yang menutupi persoalan yang lebih mendasar, rakyat tidak hidup dari slogan, rakyat tidak makan dari seremoni, rakyat tidak menggantungkan masa depannya pada panggung perayaan.

Exit mobile version