Opini  

Mengadili Abad ke-7 dengan Moralitas Abad ke-21: Sebuah Kekeliruan Sejarah

Moh. Ridlwan
Moh. Ridlwan

MUNGKIN kita perlu memulai dengan sebuah pengakuan pahit: kita adalah tawanan dari hari ini. Kita sering kali berdiri di balkon abad ke-21 dengan sepasang teropong yang lensa-lensanya telah dikaburkan oleh etika modern, lalu memandang ke arah masa lalu yang jauh—sebuah padang pasir yang berdebu atau hutan-hutan Eropa yang basah—sambil melemparkan vonis “biadab”.

Polemik mengenai pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Aisyah adalah salah satu fragmen sejarah yang paling sering ditarik ke ruang pengadilan masa kini. Dari kalangan apologet hingga kritikus yang datang dengan standar moralitas pasca-Pencerahan, perdebatan ini sering kali terjebak dalam apa yang oleh para sejarawan disebut sebagai anachronism: sebuah dosa intelektual di mana kita memaksakan definisi “benar” dan “salah” kita kepada orang-orang yang bahkan tidak mengenal kata-kata yang kita gunakan.

Fragmen yang Hilang: Masa Kanak yang Singkat

Kita hidup di zaman di mana masa kanak-kanak adalah sebuah “suaka”. Kita menciptakan sekolah, mainan, dan hukum perlindungan anak untuk memastikan seseorang tidak perlu menjadi dewasa sebelum waktunya. Namun, mari kita ingat bahwa konsep “remaja”—masa transisi yang panjang antara bermain dan bekerja—adalah penemuan modern, sebuah kemewahan yang lahir dari revolusi industri, kemakmuran ekonomi, dan penemuan psikologi perkembangan di abad ke-20.

Pada abad ke-7 di Jazirah Arab, atau bahkan di jantung Eropa abad pertengahan, hidup adalah sebuah perlombaan melawan maut yang singkat. Rata-rata harapan hidup manusia mungkin tak lebih dari 30 atau 40 tahun. Di sana, kedewasaan tidak diukur oleh ijazah universitas, melainkan oleh tanda-tanda biologis yang paling purba: baligh.

Exit mobile version