Selain upaya individu, pemerintah dan jajaran institusi pendidikan perlu memperluas layanan kesehatan mental yang terjangkau dan ramah bagi generasi muda dengan mengisi survei yang berisi tentang bagaimana seorang generasi muda menghadapi kecemasan yang sedang terjadi di dalam dirinya. Sehingga informasi mengenai layanan konseling dapat tersampaikan dengan jelas agar generasi muda yang sedang mengalami gangguan mental mengetahui tempat ke mana untuk mencari bantuan saat dibutuhkan. Dengan langkah yang terarah, pencegahan dapat menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya beban yang ditanggung oleh individu seorang diri.
Darurat mental generasi muda merupakan persoalan yang berkaitan dengan tekanan hidup, penggunaan media sosial, dukungan lingkungan, dan keterjangkauan layanan kesehatan seperti psikolog. Keempat aspek tersebut saling berhubungan sehingga penanganannya tidak cukup hanya melalui imbauan agar anak muda menjadi lebih kuat. Keluarga perlu membangun komunikasi yang terbuka, sedangkan sekolah dan kampus harus menyediakan lingkungan yang aman serta mendukung. Pemerintah dan tenaga kesehatan perlu memastikan tersedianya informasi dan layanan profesional yang mudah diakses. Upaya ini menjadi dasar untuk membangun generasi muda yang sehat secara fisik, emosional, dan sosial.
Pada akhirnya, kesehatan mental harus ditempatkan sebagai bagian penting dari pertumbuhan sumber daya manusia Indonesia. Generasi muda tidak membutuhkan tuntutan untuk selalu terlihat kuat, melainkan kesempatan untuk berkembang, menyampaikan perasaan, dan mendapatkan pertolongan yang tepat. Masyarakat perlu mengubah kebiasaan pola pikir untuk menghakimi menjadi budaya mendengarkan dan memahami. Setiap pihak dapat mengambil peran melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan bertanggung jawab. Menyelamatkan masa depan generasi muda hari ini merupakan bentuk menjaga kesehatan mental mereka di masa depan.
