Ia mengungkapkan, kelangkaan BBM telah berlangsung sekitar satu setengah bulan. Dampaknya, distribusi sembako dan kebutuhan primer lainnya ikut tersendat akibat melonjaknya biaya transportasi laut.
“Pasokan bahan pokok terganggu, harga-harga mulai naik karena distribusi tidak lancar. Jika ini terus dibiarkan, dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi masyarakat kepulauan,” tambahnya.
Lonjakan harga BBM eceran di sejumlah pulau turut memperparah kondisi. Biaya operasional nelayan, transportasi antarpulau, hingga usaha kecil masyarakat meningkat signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Tidak hanya itu, keterbatasan BBM juga mulai menghambat aktivitas pendidikan dan pelayanan kesehatan, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada akses transportasi laut.
Masyarakat pun mendesak Pemerintah Kabupaten Sumenep segera mengambil langkah cepat dengan berkoordinasi bersama Pertamina serta pihak terkait guna memastikan pasokan energi tetap terjaga. Mereka juga meminta pengawasan distribusi diperketat untuk mencegah penimbunan dan praktik permainan harga di tingkat pengecer.
Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Kabupaten Sumenep, Dadang Dedi Iskandar, belum memberikan pernyataan resmi terkait kondisi kelangkaan BBM yang dikeluhkan masyarakat tersebut.
Hingga kini, warga di Kepulauan Kangean, Raas, dan Masalembu masih menunggu langkah nyata pemerintah untuk mengakhiri krisis BBM yang semakin menekan kehidupan mereka di wilayah kepulauan.
