Media sosial menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan menanggapi berbagai peristiwa. Ketika kasus dugaan pelecehan menjadi perhatian publik, kolom komentar dipenuhi ungkapan kesedihan, kemarahan, dukungan, hingga tuntutan keadilan. Beragam respons tersebut menunjukkan bahwa masyarakat menggunakan bahasa untuk menyuarakan sikap dan kepedulian. Namun, di tengah ramainya percakapan digital, muncul pertanyaan penting: apakah setiap komentar benar-benar menunjukkan kepedulian dan disampaikan secara bertanggung jawab?
Kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis menjadi penting agar masyarakat dapat berpartisipasi secara bertanggung jawab di ruang digital (UNESCO, 2021).
Bahasa yang Menunjukkan Kepedulian
Dari tujuh contoh komentar yang diamati, terdapat enam bentuk respons bahasa, yaitu keprihatinan, sindiran, pengalaman pribadi, kritik, tuntutan, dan dukungan. Keprihatinan muncul dalam dua komentar, sedangkan lima bentuk respons lainnya masing-masing muncul satu kali. Data ini memang terbatas, tetapi dapat memberikan gambaran mengenai beragam cara masyarakat menanggapi isu yang sensitif.
Salah satu komentar berbunyi, “Ya Allah…..Bundo nangis Sukma Cantik Sholehah.” Ungkapan tersebut diiringi kesedihan dan kedekatan emosional terhadap pihak yang menjadi perhatian publik. Sementara itu, komentar “Semoga pelaku segera diproses hukum” menunjukkan harapan agar segera ditangani melalui proses hukum.
